______________________________
Ini adalah kisah nyata, ada beberapa himah yang dapat diambil:
1.Semua orang menginginkan pasangan yang terbaik, bahkan seorang preman terminal sekalipun. Mari berkaca sudah seperti apakah kita?
2. Sikap berani yang diambil si pemuda, ia tidak mengajak pacaran si gadis melainkan mangajak nikah. Hubungan serius itu bukan pacaran, melainkan pernikahan.
3.Tak perlu menjadi orang lain,, kalaupun memang tidak bisa berbahasa jawa krama ya tidak perlu memaksakan diri untuk menjadi orang lain. Jadilah diri sendiri. Jujur saja kepada si Ayah. Katakan saja seperti ini "Bapak,nyuwun pangapunten kula mboten saged basa krama kanthi sae".
4. Gadis itu memiliki niat yang sangat mulia ingin mengajak si pemuda berubah menjadi manusia yang lebih baik.
5.Harus siap dengan penolakan. Kalau berani meminta harus siap menerima segala resiko yaitu sebuah penolakan.Walau sehalus apapun bahasa yang digunakan, saya rasa penolakan akan terasa sakit. Bukankah kita tahu ketika melamar seorang gadis kita tidak sedang meminta kepada orang tua/wali si gadis melainkan meminta kepada Allah melalui wali si gadis. Jadi ketika ditolak kita harus ikhlas berarti itu jalan terbaik yang dipilhkan Allah untuk kita.
6. Ketaatan si gadis kepada orang tua, walau ia juga merasakan ketertarikan kepada si pemuda, Ia tetap mematuhi apa yang telah dipilihkan orang tuanya. Saya yakin bahwa kebanyakan orang tua mampu melihat baik tidaknya sesorang untuk menjadi pasangan dan imam bagi putrinya. Yang perlu diingat ridho Allah ada pada ridho orang tua. Apalah artinya sebuah pernikahan jika orang tua tidak merestui, tak akan ada ridho Allah di dalamnya.
Kalau masih Ada lagi hikmah yang bisa diambil dari kisah diatas yang belum terungkap silahkan ditambahkan ya teman2, semoga bermanfaat
