Tahukah kamu sebenarnya aku rindu....
Sangat rindu..
Ketika kita bertemu kemudian memelukmu..
Sebenarnya ingin terus memelukmu
Tak ingin melepaskanmu
Tapi aku hanya berpura-pura biasa saja
Mencubitmu atau mengganggumu itu menyenangkan
Meski ku tahu kau tak begitu suka
Aku sangat rindu padamu
Ingin sesekali meluangkan waktu
Hanya sekedar makan bersama
Berbagi cerita di hari itu
Ketika aku tertawa di hadapanmu
sebenarnya ada sakit yang mendera tubuhku
ingin kubagi denganmu
tapi aku tak mampu
tak selayaknya kau tahu
Biarkan ini menjadi bebanku
Apakah semua ini hanya bingkai semu?
Entahlah
tapi aku tulus mencintaimu..
Rabu, 31 Oktober 2012
Selasa, 30 Oktober 2012
MEMAKNAI TEMBANG ILIR-ILIR
Bismillahirohmaniirahim...
Bukan bermaksud untuk
menggurui atau sok tau tetapi mencoba
sedikit berbagi ilmu,jika ada yang salah ataupun kurang lengkap silahkan
ditambahkan. Matur nuwun ^_^
Lir-ilir, Lir Ilir
Tandure wus sumilir
Tak ijo royo-royo
Tak sengguh temanten anyar
Cah Angon, Cah
Angon
Penekna Blimbing Kuwi
Lunyu-lunyu penekna
Kanggo Mbasuh Dodotira
Dodotira Dodotira
Kumitir Bedhah ing pinggir
Dondomana, Jlumatana
Kanggo Seba
Mengko sore
Mumpung Padhang
Rembulane
Mumpung Jembar Kalangane
Yo surako surak Iyo!!!
Lagu ilir-ilir
sudah bukan lagu yang asing lagi di telinga kita. Tembang
sederhana buatan Sunan Kalijaga ini sarat makna dan filosofi. Para
munsyid ataupun para band sering membawakan lagu ini,di acara pernikahan,
kajian,seminar, ataupun acara lainnya. Namun ada beberapa hal yang menurut saya
perlu diperhatikan dalam membawakan lagu ini. Terlebih lagi bagi para munsyid (penyanyi
nasyid) jangan sampai salah dalam menyampaikan dan memaknai lagu ini. Para
munsyid bersenandung dengan tujuan mengajak orang lain menuju kebaikan melalui
syair dan nada yang disampaikan.
Karna kebetulan lirik dari tembang ini adalah berbahasa jawa
setidaknya ketika membawakan lagu ini pelafalannya harus benar,tidak harus medhok seperti orang jawa tetapi setidaknya tidak merubah
makna dari lagu Ilir-ilir itu
sendiri.
Saya akan mencoba
membagi menjadi 2 pembahasan yaitu
pelafalan dan pemaknaan.
1. Pelafalan
Ketika
mengucapkan kata ilir-ilir kebanyakan yang saya temui vokal i pada kata ilir dan kumitir tetap diucapkan dengan [i.]
Pelafalan yang benar adalah [i l I r], huruf i tersebut seharusnya diucapkan
sedikit tebal [I] jadi seolah-olah
seperti mengucapkan e, pada kata tandur dan
dodotira konsonan
[ d] sering diucapkan seperti kita mengucapkan kata dari pada bahasa
Indonesia. Berbeda ketika penulisannya dh
maka dibaca seperti huruf [d] biasa
dalam bahasa Indonesia. Misalnya kata dhuwit diucapkan seperti huruf [d]
dalam kata dan.
Konsonan
[d ] dalam bahasa Jawa termasuk bunyi apiko
dental yaitu bunyi bahasa yang dalam proses pelafalan arus udara dihambat
oleh artikulator pasif gigi atas dan artikulator aktif ujung lidah. Secara
sederhana pengucapan [d] ujung lidah
berada di gigi atas seperti kita
mengucakan huruf [t].
Ada dosen yang mengajari kami belajar dengan
latian mengucapkan dul idal idul idal
idul secara berulang-ulang.
2. Pemaknaan
-
Lir-ilir, Lir Ilir tandure wus
sumilir
ilir di sini dapat dimaknai nglilir ( bangun), seseorang dapat bangun dari tidur. Filosofinya
bisa dimaknai kita bangkit ataupun bergerak. Tanduran yang sumilir kena terkena angin pasti akan bergerak
mengayun ke kanan dan ke kiri. Begitu pula kita juga harus bangkit dan bergerak
melawan semua hawa nafsu kita, melawan segala kemalasan ,melawan segala
kemungkaran dan kemaksiatan yang ada di dunia.
-
Tak ijo royo-royo. Tak sengguh
temanten anyar.
Tak
ijo royo-royo artinya warnanya begitu hijau. Sedangkan kata sengguh setelah saya cari dalam kamus Bausastra Jawa dan disesuaikan dengan konteks berarti ‘duwe
ambek kaya’ mempunyai watak seperti. Seperti apa yaitu seperti
pengantin baru. Mengapa pengantin baru? Pengantin baru biasanya masih
seneng-senengnya, bahagia-bahagianya. Yang dimaksudkan semangatnya sama seperti
pengantin baru.
-
Cah Angon, Cah Angon, Penekna
Blimbing Kuwi
Filosofi yang selanjutnya adalah cah angon (penggembala). Manusia diibaratkan angon atau
menggembala di dunia ini. Menggembalakan
segumpal daging dimana jika segumpal daging itu baik maka baik semuanya. Dia bernama hati. Hati manusia yang sulit
untuk ditebak dan dikendalikan karna dipenuhi dengan nafsu dan segala penyakit
hati yang lain. Maka pandai-pandailah dalam
menggembala hati kita, menjadi hati yang suci hati yang senantiasa
berdzikir mengingat Allah. Si penggembala tadi diminta menek wit blimbing (memanjat
pohon belimbing). Pohon belimbing bergerigi 5. Hal ini menggambarkan tentang
rukun islam ada 5 yaitu syahadat, sholat, puasa, zakat dan haji.
-
Lunyu-lunyu penekna , Kanggo Mbasuh Dodotira
Meskipun lunyu atau licin tetap
panjatlah. Untuk mbasuh ‘membasuh’ dodotira
‘ bajumu’. Dodot merupakan kain yang dililitkan dibadan. Pohon
belimbing memang sangat licin dipanjat apalagi ketika musim hujan. Sama seperti
rukun islam itu untuk mencapai kesempurnaan dalam melaksanakan kelima rukun
islam itu memang sangat sulit, butuh perjuangan, pengorbanan dan tentu banyak
ujian. Tetapi jika kita berhasil
melaksanakan kelima rukun islam tersebut terbasuhlah baju kita. Apabila
pakaian kita telah terbasuh dengan sempurna maka akan menjadi bersih. Membasuh disini sama seperti kita wudhu untuk
mensucikan diri. Sedangkan baju yang dimaksud adalah pakaian taqwa. Ketika kita
berhasil melakukan kelima rukun islam dengan sempurna maka akan semakin
mensucikan diri kita dan menjadi orang yang benar-benar taqwa.
-
Dodotira Dodotira, Kumitir Bedhah ing pinggir.
Bajumu- bajumu , kumitir mempunyai arti ‘kumlebet geter kena angin’ (bergetar terkena angin) dan makna yang lain
adalah khawatir. Jika disesuaikan dengan konteks di sini yang paling tepat
adalah bergetar terkena angin hingga
mengakibatkan dodot itu tadi bedhah ( sobek) di bagian pinggirnya.
Angin di sini diibartakan seperti cobaan yang terus datang sehingga merusak
pakaian taqwa kita hingga sobek di sana-sini.
-
Dondomana, Jlumatana, Kanggo
Seba Mengko sore
Dondomona
,Jlumatana memiliki makna yang sama yaitu jahitlah. Jadi
kain yang kita pakai yang telah sobek tadi silahkan dijahit, agar menjadi
utuh kembali menjadi sebenar-benar
taqwa. Sedangkan kata Sèba berarti ngadep ing ngarsané priyayi gedhé (luhur) artinya mengahadap ke
orang yang luhur dalam hal ini adalah Tuhan (ALLAH). Bekal kita untuk menghadap Tuhan nanti ketika
kita meninggal tidak lain hanyalah iman dan taqwa.
-
Mumpung Padhang Rembulane, Mumpung Jembar Kalangane, Yo surako surak Iyo!!!
Mumpung rembulan masih terang, mumpung masih jembar ‘ luas’ kalangane.’ kalangan berarti
buwengan (lingkaran) pada rembulan
atau pun matahari. Hal ini berarti mumpung masih ada waktu, mumpung kita masih
bisa melihat sinar rembulan. Maka katakanlah ‘iya’, Bukan hanya diucapkan
dengan lisan iya tetapi hati ikut meyakini dan diwujudkan dalam perbuatan. Maka
sempurnalah keimanan seorang muslim.
Semoga tulisan sederhana ini dapat
bermanfaaat. Boleh dishare ke yang lain. Sedikit masukan untuk para munsyid
kalau ingin membuat ataupun menyanyikan lagu berbahasa asing termasuk bahasa daerah.
Sebaiknya ditanyakan dulu kepada yang lebih tau, biar tidak salah dalam
pemaknaan. Jika ada ada grup nasyid yang ingin menggunakan lirik berbahasa
Jawa, mungkin bisa share dengan saya. Setidaknya
bisa sedikit berbagi dan menerapkan ilmu yang saya pelajari di jurusan Bahasa
Jawa. Tapi kalau ternyata ilmu saya
belum mencukupi untuk membantu teman-teman semua, mohon dimaklumi. InsyaALLAH
akan coba saya tanyakan kepada yang lebih tau..Terimakasih :)
Semangat
berkarya para munsyid di seluruh Indonesia, Semoga karya kita bukan hanya
sekedar hiburan tetapi bisa semakin menambah ketaqwaan kepada Allah SWT.
Keep
istiqomah, semoga full barokah di jalan dakwah..
MARI DENGARKAN CERITAKU SEJENAK
Bolehkah aku bercerita.....
Aku teringat sesuatu, saat aku
berdiri di panggung itu..
Bagaimana tidak, panggung itu
terlalu megah untuk ukuran anak yang berumur 8 tahun, kira-kira kelas 3 SD.
Entah darimana asalnya, dan
bagaimana kronologisnya hingga aku bisa menyanyi disana.
Anak bau kencur, yang sama sekali
ga tahu teknik vocal. Tiba-tiba menyanyi di sebuah acara yang menurutku luar
biasa, dan lagu yang kubawakan bukan lagu anak-anak seperti pada umumnya.
Seingatku Itu pertama kalinya aku menyanyi di depan orang banyak.Setelah peristiwa itu jadi sering disuruh nyanyi baik di sekolah, maupun di acara 17 an,maklum tradisi itu masih ada. Selain itu sering juga diminta menyanyi di walimahan saudara. Keluarga mendukung saja ketika aku menyanyi. Bahkan saat aku yang dulu masih sekecil itu bersanding dengan penyanyi sungguhan yang memang dengan sengaja didatangkan dan dibayar di acara aqiqah salah seorang tetangga yang kayaknya juga masih saudara meskipun agak jauh.
Ketika aku datang mbak-mbake penyanyi yang cantik dengan dandanan yang agak menor (maaf) menyambutku dengan ramah dan gemes banget ma aku, ya maklum saat itu masih lucu. Mungkin rada nggumun ko aku berani nyanyi, aku ditanya “mau nyanyi apa dek?”. Cukup kujawab dengan senyum yang malu-maluin lha belum kenal sih. Tapi gak berselang lama terjadi keributan, mbakku langsung mengamankanku dan gak jadi nyanyi deh. ..mesakke tenan yo!!
Setelah kejadian itu aku masih tetap menyanyi, setiap sekolah ada acara apa gitu selalu memintaku untuk menyanyi. Mungkin dari situ aku belajar, karena jujur saja aku tak pandai membaca notasi,dan sama sekali tak mengerti teknik vocal. Pernah juga mengikuti perlombaan macapat, mengikuti serangkaian seleksi hingga akhirnya terpilih. Lomba macapatku yang pertama langsung ke kabupaten rasane begitu deg-degan. Ketika PORSENI tiba aku juga mengikuti serangkaian seleksi, bahkan ikut seleksi diberbagai perlombaan. Mulai dari tari, geguritan dan macapat itu sendiri. Saat itu aku mencoba mengasah kemampuanku di bidang lain, aku ingin bisa semuanya. Meskipun ada teman yang berkomentar bahwa aku harusnya milih salah satu, karena nanti tidak akan fokus atau apalah namanya itu. Saat harus seleksi tari di kecamatan aku ga lolos, ya maklum wae bisa nari aja dikit-dikit. Tapi akhirnya tetep kembali ke duniaku, dunia tarik suara. Hingga akhirnya terpilih dan diminta mewakili sekolahku. Aku masuki ingat, sering datang ke rumah guruku tercinta Pak Pri namanya. Suaranya bagus, caranya membaca geguritan bagus, beliau juga bisa menjadi pranata adicara. Sosok yang inspiratif menurutku. Beliau itu multitalent . Banyak hal yang kupelajari dari beliau, aku jadi tau bagaimana nembang macapat yang ada luk’e,cara membaca geguritannya bukan seperti orang-orang kuno yang nadanya sama dari awal sampai akhir.Pokokoe TOP banget, belum lagi Bu Pri ( istrinya P.Pri) yang selalu menyediakan jamu kunir asem, katanya biar suarane bagus. Tiap hari dibimbing latihan dan akhirnya maju lomba di kecamatan dan selanjutnya di kabupaten.
Alhamdulillah bisa juara tiga, aku ingat betul saat lomba harus mengenakan nyamping dan kebaya, jam setengah enam pagi harus sudah ngantri di salon untuk make up. Begitulah kisah di masa-masa SD.
Memasuki SMP, awalnya belum banyak yang tau kalo aku bisa nyanyi. Agak lupa konangane karena apa, kayake karena ikut lomba solo vocal saat classmeeting. Gila aja, g pernah nyangka kalo dapet juara 1. Ya sejak itu jadi sering nyanyi di acara-acara sekolah baik acarane siswa,guru maupun saat mengundang wali murid, dan biasane diiringi keyboard oleh adik kelasku yang setia mengiringiku sejak SD sekarang dia dimana ya?! Selain itu ikut ansamble musik, paduan suara dan karawitan. Di paduan suara dan ansamble aku bertemu lagi dengan guru sekaligus wali kelasku. Bu Tri widayati, lebih dari seorang guru, beliau adalah sumber ilmu, dan sosok seorang ibu. Kangeeeeen pengen ketemu. Karena sekarang beliau sudah pindah dari SMP 1 Simo. Dari beliau aku belajar teknik vocal,macam2 pokoke. Beliau kan guru seni musik. Jadi sedikit banyak taulah, di paduan suara aku gak ikut nyengnyong tapi malah jadi conductor (bukan benda yang menghantarkan kalor lho) tapi biasa disebut dirigent (awas kalo sampai salah baca jadi drigen!!). Pengalaman yang paling mendebarkan adalah saat harus menjadi dirigent di upacara aubade se kecamatan. Gimana gak grogi harus laporan ma inspektur upacara dulu, sebelum paduan suara kami nyanyi. Yang bikin semakin grogi itu bukan laporannya, tapi masalah baris-berbarisnya yang gak bagus. Maaf aja ya, aku kan g begitu aktif di pramuka,salah-salah dikit bisa diampuni. Di karawitan juga gak lepas dari yang namanya nyanyi awalnya sih memainkan gamelan meskipun Cuma balungan, tapi ujung-ujungnya nyanyi lagi. Gimana enggak, aku disana disuruh jadi gerong. Aku masih menyimpan foto saat main di acara perpisahan dulu. Aku pake kebaya, bunga kamboja terselip manis di rambutku dan teman2. Betapa aku tidak pernah terlepas dari nyanyi dan bagiku menyanyi adalah bagian dari hidupku.
Saat SMA akupun masih tetap bergelut di dunia tarik suara dan juga profesi dirigentku yang tidak pernah ketinggalan , kayaknya sudah begitu melekat seperti sudah benar-benar terpatri Naris =dirigent mosok dari SD-SMA. Jadi ingat pengalaman jadi dirigent yang paling memalukan adalah saat harus memberi aba-aba dan harus naik ke atas meja gara-gara aku terlalu pendek jadi aba-abanya gak kelihatan dari belakang. Bayangpun.....,malu banget apalagi paduan suaranya kakak kelas.
Aku masih tetap nyanyi sewaktu
SMA, menjadi perwakilan sekolah untuk mengikuti lomba solo vocal. Aku memilih lagu dari penyanyi kesayangan,
dan diiringi Pak Pras (Guru SMPku red).
Sama seperti SD dan SMP yang sering nyanyi diacara sekolah maupun acara
guru. Ada yang baru saat aku SMA, aku ikut band..Ada Pak Joko yang selalu menggebu-gebu
menyuruhku untuk terus bernyanyi.
Terlepas dari itu semua...aku juga mulai menata hidup dan langkahku dengan memakai jilbab. Saat mulai naik kelas 2 SMA. Meski sudah memakai jilbab, rutinitas menyanyi tidak pernah lepas. Sampai aku mengetahui tentang suara wanita menurut pandangan islam dari seseorang. Meski aku tau gak merubah semuanya, aku tetap menyanyi. Tetapi sempat beberapa kali aku mengikuti lomba baik lomba macapat, lomba vocal gak pernah menang dan hasilnya itu selalu beda dengan latihanku. Sejak saat itu aku mulai berfikir apakah ini teguran?! Atau memang ada yang salah denganku?Entahlah, aku tak tau. Aku tetap bernyanyi hingga suatu hari ketika aku harus kehilangan suaraku dan benar-benar parau padahal besok aku harus bernyanyi di acara perpisahan kakak kelas, bahkan aku sudah latihan dan memilih lagu yang bagus , iringan organnya pun sangat indah ( Jay..jangan GR ya). Tapi itu semua pupus sudah, tak ada harapan untuk bisa menyanyi hari itu. Kejadian seperti ini tidak hanya sekali, setiap aku mau nyanyi selalu tidak jadi entah ada-ada saja kendalanya. Kalaupun jadi nyanyi hasilnya tidak bagus dan pasti ada yang salah. Yah mungkin aku harus belajar lebih giat lag Dan aku mulai menerimanya,mencoba menggali setiap hikmah yang terkandung di setiap peristiwa yang terjadi. Meskipun banyak perbedaan pendapat ulama tentang suara wanita.
Memasuki bangku kuliah, mulai belajar tentang islam lebih jauh lagi. Memantapkan diri menjadi seorang muslimah sejati yang harus bisa memilih mana yang syar’i dan mana yang tidak. Hingga sampai pada masa dimana aku dipertemukan dengan Al-Huda, Sebuah petunjuk yanng menggiringku ke jalan dimana aku harus berdiri memantapkan langkah dan keyakinanku yang sempat goyah. Suatu hari Aku mengikuti audisi nasyid akhwat, seneng rasanya bisa menyanyi tetapi tetep syar’i. Nasyid akhwat......”DAWAI” (Dakwah Wanita Islami). Sekarang setiap kata yang kuucapkan di lirik senandungku adalah dakwah. Setiap nada yang kulantunkan adalah ibadah. Harmoni nada-nada yang selalu menggema di sepanjang waktu adalah bukti komitmen kami terhadap islam. Inilah jalan kami..jalan dakwah kami. Jalan dakwah lewat seni...Inilah bukti komitmenku kepada-MU Rabbi,,
Seandainya saat SMA dulu, sudah ada yang mewadahi akhwat untuk senantiasa berkreasi..
Bagaimana mau mewadai, setiap aku
selesai menyanyi akan ada sikap yang kurang enak dan membuatku merasa telah
melakukan dosa besar, apalagi posisiku sebagai wanita yang berjilbab.
Aku merasakan sikap itu dari
orang2 yang bergelut di------ sekolah, entah karena aku yang tak terlalu kenal
atau bagaimana. Semoga hanya perasaanku yang salah. Semoga saat ini telah ada
tempat yang khusus mewadahi wanita muslimah yang ingin terus menggali potensi
dan kreasinya. Jangan sampai ada akhwat yang seperti aku.
Meskipun aku terkadang masih
“nyinden”di kelas, itupun karena disuruh dosen, harap dimaklumi. Mengingat
jurusanku yang mengharuskan memiliki
skill untuk sindhen menyindhen.
------------------------------------------0----------------------------0--------------------------------
Bagaimana bisa aku dipisahkan
dengan menyanyi, jangan pisahkan aku. Menyanyi adalah bagian dari hidupku.
Kalau kata BSBK ( Bidangku tercinta). Separuh jiwaku seni....
Sempat ada kekhawatiran
kalau-kalau aku disuruh berhenti bersenandung..
Tahun 2012 ini mendapat amanah baru yang sebenarnya sudah membuatku penasaran sejak tahun lalu yaitu di Asosiasi Nasyid Nusantara wilayah Jogjakarta. Ya..tidak jauh-jauh dari nasyid, sebuah komunitas yang menggarap bidang seni islam yaitu nasyid. Alhamdulillah tahun ini nasyid sudah dilirik oleh dinas-dinas di DIY. Baik dinas Pariwisata maupun dinas Kebudayaan. Itu semua memang berkat kerja keras teman-teman ikhwah yang ada di sana. Kemarin telah menyelenggarakan festival nasyid Jogjakarta dan tanggal 15 nanti insyaALLAH akan mengadakan konser nasyid. Semoga lancar dan berkah yaah..
Berada di ANN sebenarnya ada beban tersendiri, aku
merasakan beban ketika Dawai disebut di forum ANN, entah kenapa. Oya.. tahun
ini Dawai juga sudah rekaman dengan single Sentuhan hati, yaaah meskipun bukan
lagu sendiri tapi ya lumayan baguus kok lagunya, sempat menyentuh hati beberapa
orang pendengar..
Naah..Dawai kan telah memutuskan
untuk go publik, jadi siap nampil di umum jika sewaktu-waktu ada tawaran.
Beberapa waktu lalu sempat nampil di Islamic Book Fair dan Muslim Fair. Sungguh
keinginan yang dulu kita idam-idamkan. Alhamdulillah... J
Kembali ke beban tadi niih, sebagai pengurus ANN meskipun aku Cuma bantu2 aja. (Kalo ditanya sie apa, Sie Kepastian..he2) agak gimana gitu, ANN memang masih berhati-hati dalam menampilan nasyid akhwat aku hargai itu. Tapi di sisi lain aku adalah pengurus dan masih bernyanyi di umum. Sebuah dilema melanda diriku memang...(halahh bahasane).Aku tahu masalah menyanyi di umum itu masih menjadi perdebatan apalagi bagi seorang akhwat, tapi niatan kita adalah ingin syiar lebih luas. Allah yang Maha tahu hati-hati kami semoga tetap lurus dan ikhlas. Sungguh tidak ada niatan sama sekali untuk membuat orang-orang merinding ataupun terpesona dengan suara kami. Aku pribadi selalu berdoa semoga lagu yang kunyanyikan tidak menimbulkan syahwat. Kalau disuruh memilih memang lebih enak bernyanyi di umum jadi tidak ada ikhwah di sana. Karna membuat grogi juga kalau ada mereka tuuh, apalagi orang yang kedekatannya dengan Allah begitu baik mendengar suara kami dikhawatirkan menimbulkan efek yang kurang baik. Tapi kembali lagi, pada kesucian hati pendengarnya. Penyanyi itu tugasnya bernyanyi bukan memastikan hati para pendengar.
Dimanapun aku berdiri, dimanapun amanahku aku tak bisa memisahkan diri dari menyanyi.
Meski suaraku tak terlalu bagus,
meski aku belum banyak tahu teknik vocal.
Aku akan tetap menyanyi...
Aku akan belajar menjadi seorang penyanyi yang baik
Sampai kapanpun, kumohon siapapun kalian jangan suruh aku berhenti untuk benyanyi.
Sampai kapanpun, kumohon siapapun kalian jangan suruh aku berhenti untuk benyanyi.
“Dakwahku lewat lantunan syair ,
Syair Kalam ilahi yang terangkai dalam sebuah harmoni”
NB : Terimakasih untuk semua guruku yang telah mengajariku bernyanyi
Waallhu a’lam bishowab
Senin, 31 Januari 2011
RUMAH SAKIT
Mendengar kata ini membuatku pusing dan membuat seuruh sel-sel otak serasa berhenti bekerja karena terbayang betapa ngerinya bangunan yang dipenuhi dengan lautan orang berbaju putih. Bagi keluargaku Rumah sakit, operasi, opname merupakan momok yang begitu sering dialami. Entah sudah berapa kali bergantian keluar masuk rumah sakit, jika ditanya mau apa tidak setiap orang pasti menjawab tidak mau masuk Rumah sakit. Termasuk keluargaku, tapi keadaan berkata lain, hanya dengan dirawat di Rumah Sakit baru bisa pulih seperti sediakala.
Jujur aku bosan dengan Rumah Sakit, aku muak dengan kata operasi dan opname. Aku tak ingin ada lagi anggota keluarga yang singgah disana meskipun hanya sekedar periksa. Karena senua akan sehat dan tiada problem lagi dengan kesehatannya. Akupun juga eneg ketika harus ke Rumah Sakit memeriksakan bekas cuci otak ataupun si penganggu di tenggorokanku yang terkadang kambuh sakit sekali. Tapi itu cuma sekedar periksa dan meminta obat, semoga gak lagi-lagi. Aku sudah jengah dengan rumah sakit......
Kali ini Adit yang harus dirawat disana, karena sakit typus, Jika diurutkan entah siapa yang lebih dulu di rawat di Rumah Sakit.
Bue : sudah berapa kali beiau menjalani operasi mulai operasi uci-uci mungkin saat itu aku belum lahir. Saat aku SMA kelas 2 ibu cobaan kembali menimpa, beberapa penyakit telah terdeteksi dan hinggap di badan Bue. Awalnya hanya di curret karena pendarahan yang hebat, tak terbayangkan bagaimana bingungnya Masku saat harus menunggu bue di Rumah Sakit sedangkan istrinya tengah hamil tua, tinggal menunggu detik-detik kelahiran. Jika ditanya siapa wanita yang kau anggap sebagai wonder women? maka aku akan menjawab “Bueku tercinta”. Allah menginginkan dosa Bue dihapus melalui sakit maka allah sering memberi Bue sakit. Tidak berhenti curret saja, setelah itu ibu operasi 3 macam penyakit sekaligus. Aku masih ingat betul saat itu bagaimana wajah Bueku setelah dioperasi, seolah bukan Bue wajahnya pucat pasi. Tak terbayangkan bagaimana sakitnya perut harus disobek memanjang. Miris aku membayangkan, membayangkan saja takutnya bukan main apalagi merasakan. Kami berharap ini adalah yang terakhir.
Ternyata, Allah menginginkan hal lain. Waktu itu sedang libur, Mbak Ning sekeluarga datang ke rumah. Ibu mana yang gak senang jika anak dan cucunya datang. Demikian halnya dengan Bue, saat anak cucu berkumpul bue pasti akan memasakkan makanan kesukaan kami., Satu persatu dari keponakanku ditanya mau dimasakan apa.Setelah selesai bertanya Bue akan pergi ke pasar belanja pesanan keponakanku. Seperi pagi itu, yang kebetulan bertepatan hari ahad, Bue pergi ke pasar sendirian, karena biasanya seperti itu. Terkadang mengajakku atau menyuruh akau yang belanja ke pasar, tapi pagi itu Bue pergi sendiri ke pasar, biasanya akan pulang dengan naik becak.
Pagi itu begitu cerah tapi sayang tak secerah suasana hati kami sekeluarga. Saat aku masih mencuci piring di dapur. Ku dengar Bue, berteriak dari depan rumah mengatakan Pak aku mau tiba, akupun langsung berlari ke depan untuk melihat keadaan Bue, kami kira hanya jatuh biasa. Karena Bue bilang Cuma terpeleset dan tanganya digunakan untuk penopang. Kami kira hanya kesleo. Aku lihat keadaan Bue, jaket dan dasternya kotor semua terkena tanah. Kebetulan habis hujan, mungkin itu salah satu penyebabnya ditambah lagi warung dimana Bue menitipkan barang tersebut juga berjualan minyak goreng kemungkinan besar tercampur dengan air dan pastinya membuat semakin licin. Maklum pasar tradisional,...
Aku membersihkan badan Bue, yang penuh dengan tanah. Bue terus mengeluhkan kalau tangan kirinya sakit sekali. Saat kulihat dan mengamati lebih jauh, sepertinya ada yang bebeda dengan tangan Bue sebelah kiri. Aku sempat berfikir, jangan-jangan patah tulang. Tapi pikiran itu segera kuenyahkan dari otakku, dan tetap khusnudhon bahwa hanya kesleo. Saat memakaikan baju juga sangat sulit , karena Bue terus merintih kesakitan. Bue gemetar mungkin karena kaget, belum sempat memakan apa-apa dan yang paling menahan rasa sakit yang luar biasa . Ini membuatku, Bapak, Mbaku, semua jadi bingung.
Mbak Erna langsung ditelphone untuk segera melihat kondisi Bue. Tak lama kemudian Mba Erna datang dan kamipun berunding baiknya seperti apa. Hingga memutuskan untuk dibawa Ke Rumah Sakit khusus tulang di Kartasura. Sebelum itu aku sempat melihat Mbak Ning masuk kamar, dan menangis menyalahkan dirinya kalau tidak datang ke rumah tak akan terjadi seperti ini. Bue dibawa Ke Kartasura aku ditinggal di rumah dengan Bapak. Hanya Mbaku dan Masku yang kesana.
Di rumah pun tidak tenang, terus harap-harap cemas menunggu kabar dari Mbaku. Akhirnya telephone berdering juga, mbaku mengabarkan bahwa Bue patah tulang dan harus dioperasi. Kepalaku terasa ditimpa benda berat, segunung mendengar itu. Tapi belum bisa dioperasi karena ternyata gula Bue tinggi. Gak bisa membayangkan bagaimana Bue berjuang untuk bisa bangkit, beridiri, dan pulang naik becak dengan kondisi patah tulang tanpa ada seorangpun yang membantunya.
Bapak sedang dhahar, tapi beliau berbicara sambil menangis. Aku melihat Bapak menangis lagi, ekspresi dan tangis yang sama saat tau Bue dicurret di Pekalongan dan kami berada di rumah. Kekhawatiran sekaligus kesedihan seorang suami tergambar jelas, tapi kali ini lebih menyakitkan aku bisa merasakannya. Bapak bilang kenapa di masa-masa tua yang tinggal menikmati hasil kerja keras malah diuji seperti ini. Ah...Bapak ‘pahlawanku’ karena beliau Suami yang setia , Bapak yang luar biasa. Bisa melakukan pekerjaan Ibu Rumah tangga. Bapak pintar memasak.Beliau yang menyiapkan makanan Ibu, memandikan,menyiapkan obat. Perawat yang luar biasa. Semoga Bapak senantiasa diberi kesehatan, karena kalau Bapak sakit siapa yang mengurus Bue. Semoga Bapak dan Bue selalu diberi limpahan Rahmat.
Bue baru bisa dioperasi hari senin sore. Malam pertama di Rumah Sakit merupakan malam terberat bagi Bue. Kebetulan hanya aku dan Bapak yang menjaga Bue di Rumah Sakit. Semalaman Bue tidak bisa tidur karena sakit yang luar biasa, aku gak tega melihatnya. Bue terus merintih kesakitan. Aku hanya bisa membimbing Bue untuk beristighfar, saat Bue mulai bisa tidur aku bisa tilawah dengan tenang. Aku sampai bingung harus berbuat apa, Bue terus mengeluhkan sakitnya. Karena Bue bilang lebih sakit ini dibandingkan operasi yang sebelumnya. Kalau dulu sakitnya mungkin setelah operasi, tapi kalau sekarang sakitnya sudah dirasakan sebelum operasi. Dokter tidak berani mengoperasi Bue karena ternyata Bue punya gula yang cukup tinggi, kami sekeluarga sempat kaget karena sebelumnya gak pernah mengeuhkan tentang penyakit gula.Semoga operasi yang dijalani Bue itu adalah operasi yang terakhir bagi Bue dan bagi keluarga kami. Gak boleh ada yang opera isi lagi.
Aku dan Uyut : Entah kenapa, kata ibu bekas infus saat aku masih kecil. Jadinya kayak keloid, dan harus dioperasi. Untungnya operasi kecil sekitar setahun yang lalu bulan Februari, aku menjalani operasi dengan sadar karena hanya bius lokal. Takut, karena ini pengalaman pertama, semoga terakhir. Aku melihat ke atas ada benda-benda tajam yang dibawa dokter, makanya aku memejamkan mata dan memalingkan muka. Namun saat ku menoleh ke kiri darah segar mengalir. Aku ngeri dengan semua ini. Operasi kecil sebenarnya tapi cukup menakutkan. Saat dijahit aku merasakan kulit kepalaku terasa lebih tebal, benang yang digunakan untuk menjahit putus terus aku mendengar itu. Akun ingin operasi ini segera berakhir. Akhirnya berakhir juga, aku langsung ke luar menemui Bue yang sedari tadi menungguiku di luar. Bapak sedang menebus obat. Badanku terasa lemas, kepalaku pusing. Aku bersandar di badan ibu, dan gak bisa berkata apa-apa seperti mau pingsan. Bue histeris memanggil-manggil perawat, akhirnya aku masuk lagi ke ruangan tidur dan diberi teh hangat. Dokter yang mengoperasiku kembali memeriksaku, ternyata aku tidak apa-apa hanya takut saja. Tidak berselang lama aku boleh pulang. Setelah sampai rumah baru terasa sakit mungkin biusnya sudah muai hilang. Setelah seminggu, aku harus kontrol untuk dibuka jahitannya. Saat itu aku diantar Bapak. Seorang petugas menggunting benang dan mengangkat jahitannya dari kepalaku. Ternyata belum begitu kering, sepertinya perhitungan dokter kurang tepat. Bekas jahitannya masih mengeluarkan darah, petugas itu kemudian mengambil kapas dan ditekan keras sekali di kepalaku, agar darah tidak keluar. Aku sebenarnya menahan sakit, ingin sekali menangis dan berteriak. Akhirnya aku dan Bapak pulang. Saat pulang Bapak menanyakan apakah sakit, ya kujawab sakit sambil senyum-senyum nahan sakit. Sepanjang perjalanan ke rumah, airmataku terus ,meleleh. Sampai di rumah aku menangis sejadi-jadinya sakit, benar-benar sakit. Huh perawate kasar banget sih....
Sudah cukup sepertinya, cerita dengan perawat, karena tak kan ada lagi perawat yang akn mengotak-atik tubuhku. Aku akan sehat, gak lagi-lagi daaah sakit.
Uyut : Diusia 85 tahun, tubuh renta uyut menjalani operasi mata karena uyut mengidap katarak. Kalau berjalan sudah tidak jelas, uyutpun operasi di Boyolali. Tapi hanya rawat jalan, seperti aku.Setelah operasi, mata uyut dibalut perban kanan kiri seperti bola besar ada di mata uyut. Kasihan aku melihatnya. Tapi akhirnya uyut bisa sembuh, dan bisa melihat lagi dengan jelas. Belum lama ini uyut di rawat di Rumah Sakit karena diare yang tak kunjung sembuh, mungkin sekitar 3 minggu yang lalu.
Adisty : Entah sudah berapa kali anak yang baru berumur 5 tahun ini keluar masuk Rumah Sakit. Saat masih berumur setahun lebih pernah dirawat di rumah Sakit karena diare, seteah itu dirawat lagi karena panas, DB, dan yang terakhir ini panas yang tak kunjung turun. Harus dites darah terus untuk memastikan penyakit apa yang senbenarnya diderita Adisty. Ternyata panas yang diderita itu karea virus. Pernah Adis dirawat di Rumah Sakit saat Idul Adha, saat itu aku masih SMA. Sungguh aneh sekali, aku berangkat sholat dari Rumah Mbaku, gimana Mbaku gak sedih saat Idul Adha harus berada di Rumah Sakit. Adisty... kamu anak yang kuat, dan tak akan sakit lagi. Sudah cukup, tanganmu disuntik jarum suntik, infus, dicek darah.
Mbak Erna : Mbaku ini juga pernah operasi dua kali. Yang pertama karena ada uci-uci yang kedua usus buntu.
Mas Budi : Entah karena sering menahan kencing atau bagaimana, ginjal masku sedikit bermasalah. kembali di bawa ke Rumah sakit .
Dan kini Aditya yang harus di rawat di rumah sakit,entah bagaimana keadaanmu. Ini pertama kalinya kamu dirawat di rumah sakit. Adit...kau baru saja milad hari Rabu kemarin. Usiamu sekarang genap 10 tahun. Begitu cepat waktu berlalu, dulu aku sering menggendongmu saat ditinggal kuliah. Kini kau semakin tinggi, tumbuh besar bahkan tinggi kita hampir sama. Maaf, kemarin kau menanti-nantikan ucapan selamat ulang tahun dari Mbak Atih ya? Mau dibelikan, mbak Atih apa? Pesenan kemarin, insyallah mbak carikan. Cepat sembuh ya, nanti kita bisa ke Taman Pintar nonton film 4D. Mbak Atih sayaaaang Adit.
Betapa sering keluarga mbaku keluar masuk Rumah Sakit secara bergantian. Siapapun juga tidak ada yang mau, semua itu datang dari Allah, sebagai seorang hamba hanya bisa menjalankan skenario yang telah dibuat Sang Sutradara. Biarkan orang berkata apa jangan hiraukan apa kata mereka, tetaplah teguh dalam keimanan bahwa semua ini datang dari Allah dan kembalikan ke Allah Semata.
Ya Rabb,...betapa besarnya cintaMu kepada kami, betapa luas rahmat-Mu kepada kami, mungkin ini adalah bagian tarbiyah dari Mu. Semoga kami semua mampu menjadi manusia yang setingkat lebih baik. Semoga kami sanggup melewati cobaan ini, ...
“ Ampunilah kami, Ya Tuhan Kami, dan kepada Engkaulah tempat kembali.’’ Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya, Ia mendapat pahala dari kebajikan yang diusahakannya dan ia mendapat siksa dari kejahatan yang dikerjakannya. (Mereka berdoa) “ Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Tuhan Kami ,janganlah Engkau bebankan Kami beban yang berat seabagaimana Engkau bebankan orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa-apa yang tak sanggup kami memikulnya, beri maaflah kami, ampunilah kami, dan Rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, maka tolonglah kami terhadap orang kafir (Al-Baqarah 286)
Semoga kami semua bisa tabah, menjalani tarbiyah dari Mu Ya Allah....
Betapa Allah mencintai kami...
Kenangan adalah Kekhilafan
Kenangan adalah sebuah kekhliafan,masa depan adalah harapan. Jikalau Allah tidak memberikan kesempatan pada manusia untuk bertaubat apalah artinya sebuah kehidupan. Tapi allah memberikan maha Rahman da Rahhim. Ia tidak menjadikan manusia itu sempurna,manusia dipenuhi dengan nafsu yang terkadang tidak jarang lupa maupun melakukan kekhilafan. Oleh karena itu Allah memberikan manusia jalan untuk kembali yaitu bertaubat. Menyesali semua kesalahan yang telah dilakukan dan beranji tidak akan melakukan kesalahan itu lagi. Maha Pemurahnya Allah tidak akan pernah bisa kita hitung dan tak jarang bahkan kita tidak mengetahuinya. Semua yang ada di dunia ini mengandung berjuta hikmah yang kita tidak ketahui apa yang terkandung di dalamnya.sebagai manusia kita mung sadermo narima lan nglakoni.
Kita hanya menerima apa yang telah Allah anugerahkan kepada kita. Tapi tak lupa disertai dengan usaha dan doa. Dimanapun berada ingatlah Allah itu menganugerahkan cinta-Nya yang begitu besar entah melalui cobaan berupa kebahagian maupun kesengsaraan tinggal bagaimana kita sebagai manusia menerima dan menyikapi semuanya.
Menyesali suatu kesalahan yang telah dilakukan adalah suatu kewajiban. Masa lalu adalah bagian dari masa kini,sedangkan masa kini adalah bekal tuk menyongsong hari esok yang lebih baik. Jikalau di masa lalu dipertemukan dengan orang-orang yang sempat menggoreskan cerita kelam dan penuh kekhilafan. Biarkan itu sebagai pelajaran, seperti yang diperintahkan oleh Rasullullah SAW ambil yang baik dan buang yang buruk. Jika hari ini dipertemukan kembali dengan orang-rang di masa lalu. Berarti Allah masih mengijinkan kita untuk memperbaiki album kenangan cerita hari ini dengan cerita yang lebih baik. Karena manusia yang mau berfikir dan pastinya ingin masuk ke dalam golongan orang beruntung tidak akan mengulangi kesalahan yang telah diperbuat di masa lalu.
Untuk semua cinta,perhatian, dan semua yang telah diberikan kepadaku Terimakasih. Jazakumulllah khoiron katsira. Jika di masa lalu aku banyak mengurai kata yang membuat sakit hati, bertingkah menyakiti,ada janji yang belum terpenuhi, hutang yang belum terlunasi .Ku mohon maaf yang sebesar-besarnya. Dan jika semua orang melakukan banyak kekhilafan yang ditakdirkan olehmu, ku akan coba memaafkan dan mengikhlaskan. Semoga kalianpun demikian.
Jika dulu kita dipertemukan dalam suasana yang tidak baik, lingkungan yang tidak baik dan akhlak yang kurang terpuji. Semoga hari ini dan nanti kita dipertemukan dalam suasana,lingkungan,akhlak yang lebih baik dan ALLAH meridhoi serta mencurahkan Rahmat-Nya....
Amin
Langganan:
Postingan (Atom)