Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 April 2014

Sejuta Rasa Sejuta Cerita bersama Sepeda

Olahraga apa yang paling kamu sukai? Kalau Saya sangat suka Ngonthѐl   atau bersepeda. Sebenarnya bukan hanya untuk olahraga sih, tapi sepeda adalah alat transportasi yang saya miliki. Hmm..ngomong-ngomong soal sepeda, dulu waktu menjadi mahasiswa baru  Saya diberikan sepeda oleh kakak saya. Waktu itu sepedanya wimcycle.  Bagus dan lumayan lah harganya.  Sempat saya pakai tiga semester namun suatu ketika sepeda itu dicuri orang. Saya lupa tidak membawa kuncinya. Padahal sepeda itu saya parkirkan di belakang kelas. Tapi memang di sana sedang ramai orang juga, mungkin tidak aka nada yang perduli ketika sepeda tersebut ada yang mengambil. Saya juga tidak tahu kapan sepeda itu dicuri. Karena saya baru sadar saat sudah sore, setelah  Saya  rapat Panitia OSPEK. Setelah muter-muter dan Tanya pak satpam, memang tidak ada yang tahu. Saya nangis waktu itu,,takut dan campur aduk deh rasanya. Hiks2..hiks  T_T
            Walau sempat dimarahi oleh keluarga karena ketidakhati-hatian Saya. Saya tetap harus move on. Menjalani hidup tanpa sepeda untuk beberapa waktu. Jadi waktu itu Saya berangkat dan pulang kuliah jalan kaki. Naah,, saat itu ada sepeda nganggur di kos. Sepeda milik mbak Gian. Saya diijinkan memakai sepeda onthelnya untuk pergi kemana-mana. Walau tidak sebagus sepeda Saya yang hilang, Alhamdulillah bisa digunakan untuk melanglang buana.
            Suatu pagi,,saya memakirkan sepeda milik mbak Gian di IEC masjid Mujahidin UNY. Sepeda yang Saya pakai memang tidak ada kuncinya, jadi Saya parkir begitu saja di samping sepeda yang lain. Waktu Saya akan memasuki parkiran IEC Saya melihat ada seorang bapak berkemeja dan menggunakan sepatu sedang melihat-lihat di depan PKM (Pusat Kegiatan Mahasiswa). Saya hanya melihatnya sambil lalu saja, karena Saya harus segera ke Gedung Cine Club untuk mengikuti Musyawarah Akhir Tahun Al-Huda.  Hari itu saya mengikuti dengan lancar dan tidak merasakan sesuatu yang aneh. Sampai pada waktu kami para pengurus Harian dan Pengurus Inti akan didemisionerkan, tiba-tiba ada takmir dari Mujahidin yang memberikan pengumuman kepada MC. Isi pengumuman tersebut adalah bagi pemilik sepeda warna pink mohon ikut Akh Mubariz ke takmir. Nah lo,,itu kan sepeda yang saya bawa. Batinku dalam hati. Akh Mubariz langsung mengajak saya keluar ruangan. Padahal itu hampir demisioner lhoh. Yahh,, akhirnya saya nurut saja. Waktu Saya Tanya ke beliau? “Sebenarnya ada apa,Sepeda Saya hilang??” Beliau  cuma menjawab “Udah ikut aja ke kantor polisi” . Dalam sanubari bertanya-tanya hahh,,,kantor polisi terus aku harus gimana ini? Kemudian saya bertanya lagi: “Saya naik apa ke sana?” Beliau langsung meminta mbak-mbak yang sedang menunggu seseorang. “Mbak,,minta tolong antarkan mbak ini ke kantor polisi bulak sumur”. Mbak tersebut juga nurut aja. Tak kirain udah kenal, ehh ternyata belum kenal lho.. Akhirnya sampai juga saya ke Polsek Bulak Sumur.
Sesampainya di Polsek bulak sumur.
 Baru lima langkah masuk ke Polsek. Saya melihat Akh Sigit memukul seorang lelaki dengan tasnya. Syok banget saya waktu itu., Saya bingung,, ada apa ini.. Dan lelaki yang dipukul Akh Sigit adalah Bapak yang saya lihat tadi pagi di depan PKM. Setelah duduk sejenak kemudian Saya dijelaskan bahwa sepeda pink tersebut akan dicuri oleh Bapak Tua itu. Namun belum sempat dibawa kabur, sudah ketahuan takmir. Hari itu,,takmir memang sengaja mengintai dari ruangannya. Mengingat,,banyaknya jamaah yang sering kehilangan sepeda. Terlebih di hari minggu. Setelah itu saya diinterogasi Pak Polisi, ditanya mau diproses atau tidak. Saya bingung sekali sebenarnya. Akhirnya Saya memutuskan untuk diproses agar memberikan efek jera kepada pencuri tersebut. Setelah diinterogasi lama saya baru mengetahui, ternyata bapak tersebut sering keluar masuk penjara karena kasus yang sama. Huhhh,,,menghela nafas panjang. Kemana ya keluarganya kok sampai ga dicari, kenapa bapak tersebut memilih mencuri. Oya,,karena saya memilih untuk diproses. Maka sepeda tersebut juga ditahan sampai proses sidang berlangsung.
Tibalah saat yang ditentukan Sidang Pencurian Sepeda,,
Saya memasuki ruangan persidangan. Mirip kayak di TV gitu. Saya di sumpah Al-Quran. Waktu itu ada Laras dan Akh Sigit juga sebagai saksi. Sungguh pengalaman pertama yang menakutkan dan menegangkan. Saya sidang di Pengadilan,,ditanya oleh hakim dan Jaksa. Proses sidang pun selesai juga. Jaksa juga menyampaikan kalau mau mengambil sepedanya silahkan melengkapi beberapa persyaratan. Sepeda tersebut tidak diambil karena kita juga bingung. Gedung Pengadilan dengan kos Saya sangat jauh. Tidak mungkin jika sepeda tersebut di naiki. Akhirnya saya mengganti sepeda itu ke Mbak Gian sebesar Rp.200.000 karena sepeda tersebut sudah uzur sebenarnya.hehe
Setelah sidang menyidang soal sepeda selesai. Saya pun memutuskan untuk membeli sepeda lagi dengan uang beasiswa yang Saya dapatkan. Saya pergi naik bis kemudian naik becak untuk membeli sepeda di daerah sekitar Jogjatronik. Setelah keluar masuk ke beberapa toko, Saya pun menentukan pilihan ke salah satu toko. Saya memilih-milih sepeda. Ditawari sepeda lipat, sepeda gunung, dan lain-lain. Tapi pilihan Saya jatuh pada sebuah sepeda berwarna hijau. Baik Sedel maupun boncengannya juga hijau. Sepedanya bergambar not-not. Walau harganya lebih mahal dibandingkan sepeda dengan merk yang sama dan ada stelan rantainya. Bismillah saya mantap memilih sepeda itu. Setelah distel dan dipasang ini itu. Saya pun membawanya pulang. Saya Ngonthѐl  dari depan Jogjatronik sampai ke kos. Oya sepeda saya kuberi nama ICHA. Bukan Ihh,,Cape deh lhoo tapi Ihh Cantiknya Hingga Aku terpesona. Sepeda baru memberikan energy baru.
Icha ku sayaaang
ICHA selalu saya bawa kemana-mana, baik itu syuro, belanja, jalan-jalan dan lain-lain. Saya sering ke basecame ANN Ngonthѐl.  Ke Taman Budaya Naik  Onthel  juga pernah saya jalani. Menjalankan tugas menjadi manager Drimhos dengan Onthel pula. Saya naik onthel pulang pergi ke taman siswa. Awalanya kenapa Saya memberi nama Icha, karena banyak orang yang terpesona, dan bertanya beli dimana, harganya berapa. Warnanya cantik,,Bahkan saat parkir di Balai Bahasa ada beberapa bapak-bapak yang sedang ada di parkiran, akan membelikan istrinya sepeda juga biar bisa belanja ke pasar naik sepeda katanya..heheh J
Bulan Oktober 2013 tepatnya tanggal 9 Saya mengalami sebuah musibah bersama Icha. Sejak membuka gerbang dan mengunci pintu drimhos saya merasakan deg-degan tapi itu tidak saya hiraukan. Akhirnya saya tetap melaju bersama Icha. Waktu itu kakak saya yang dari Kalimantan pulang ke rumah, Akhirnya Saya berhenti di pinggir jalan dan sms Kakak saya menanyakan dimanakah posisinya berada. Kemudian Saya teringat belum membelikan buku untuk istrinya. Harusnya saya belok kiri ke stasiun tetapi malah lurus terus menuju toko buku. Baru sampai perempatan sebelum galleria mall saya dipepet orang, kemudian tas saya diambil. Saya sangat shock  jadi saya tidak berteriak jambret melainkan maling. Dan saat itu Saya tidak mengantongi apapun kecuali uang 10.000 yang sobek. Saya akui kondisi saya memang sedang turun, terlebih lagi saya waktu itu sedang haid. Lampu merah yang biasanya ramai orang kebetulan waktu itu sepi sekali, di pos polisi juga sama sekali tidak ada polisi. Saya mencoba mengejar tapi sendi-sendi kaki terasa lemas lunglai tak bertenaga. Dan saya pun limbung di depan Rumah Sakit Bethesda. Saya bilang ke tukang becak, kalau saya baru saja dijambret. Dan ia pun mengatakan lapor polisi saja mbak. Saya pun menuruti kata-kata tukang becak tersebut. Dengan sisa-sisa tenaga yang saya miliki, saya kembali mengayuh Icha. Tapi ternyata lagi-lagi pos polisi itu kosong tak bertuan, dan Saya pun memutuskan untuk pulang ke kos saja. Selama perjalanan Saya masih bingung, antara mau menangis, shock, dan sebagainya. Saya pun pulang ke kos dan menggemparkan seluruh isi kos. Saya telpon mbak Erna dan mengabari kalau saya baru saja dijambret. Menangis sejadi-jadinya deh,,Endingnya malam itu Saya dijemput pulang. Hikmahnya begitu banyak,, mungkin saya akan ceritakan di lain kesempatan.
Balik lagi nih soal ngonthel, setalah musibah tersebut Alhamdulillah tidak membuat Saya trauma untuk bersepeda lagi. Saya merasakan ada sebuah energy dan kebahagiaan yang tiada tara ketika Saya menaiki Icha. Terkadang menemukan keajaiban di jalan. Saya selalu merasa ada malaikat yang ikut mendorong sepeda saya, ketika Saya pulang malam dari basecame ANN, ke Drimhos ataupun dari berbagai medan juang yang Saya datangi. Mungkin kedengarannya lebay, tapi pokoknya kaya gitu lah. Saya tidak punya kata yang tepat untuk megungkapkannya..
Saya juga sering pergi ngonthel dengan tujuan olahraga atau pun jalan-jalan bersama teman kos. Rasanya happy dan full energy deh pokoke. Ya iyalah,,karena setelah kita ngonthel pagi-pagi langsung beli sarapan gitu. Hihihi.. Be tewe ada satu cerita  soal Gowes menggowes. Mbak ku yang pertama dikenalkan dengan langgganan warungnya ibuk. Finally hasil perkenalan itu mereka memutuskan untuk menikah,, Mbaku menikah dengan mas Bagus. Mas Bagus itu adalah seorang bikers. Sampai sekarang juga masih gowes, walau hanya di hari libur sih. Tapi gowesnya tidak sejauh dulu, sampai Simo, Tawangmangu, dan tempat-tempat yang lain. Coba ya ibu masih buka warung, Mungkin Saya juga dijodohkan dengan langganannya. Bikers juga ga pa-pa kok, asal sholeh, ganteng, .. (Lhoooh..malaaah berkhayal, sadaaar euuy..)
Mas Bagus gowes di Waduk Cengklik


Saya akan tetap gowes bin Ngonthel bin nyepeda. Kalau nanti Saya sudah punya motor sendiri atau pun mobil..(Aamiin…*kenceng) InsyaAlllah kegiatan bersepeda akan tetap Saya lakukan. Semoga punya rejeki untuk membeli sepeda yang bagus yang memang buat gowes. Karena bersepeda itu berjuta rasanya. Ku bahagia dan mensyukuri setiap episode yang  kurasakan. Setiap kali bersepeda yang kulakukan adalah merenung, berfikir, bermimpi, menemukan ide-ide yang teramat gila. Terkadang kalau air mata tak mampu lagi kutahan, aku meneteskannya, kadang berteriak sekencang-kencangnya di atas sepeda. Tapi tetep, muka ditutup dengan slayer. Sekalipun hanya kedua bola mata ini yang nampak, orang lain tetap bisa melihatku saat senyum itu mengembang. Ya..karna mata adalah jendela hati.  Setiap masa dan kesempatan yang kulewati adalah hikmah. Ada cinta Allah yang teramat istimewa di segala peristiwa. Semoga menjadi sebaik-baik hamba yang senantiasa bersyukur baik saat sempit maupun saat lapang..
Serunya bersepeda :)
Selamat ngnthel para bikers… Berbahagialah saat kau naiki  sepedamu, karena gak semua orang beruntung bisa membeli sepeda semahal kamu. Selain itu gak semua orang bisa merasakan sensasi bersepeda.. Jangan lupa tebar senyum, pasti tambah kecee deeh  ^_^


Rabu, 31 Oktober 2012

BINGKAI SEMU

Tahukah kamu sebenarnya aku rindu....
Sangat rindu..
Ketika kita bertemu kemudian memelukmu..
Sebenarnya ingin terus memelukmu
Tak ingin melepaskanmu
Tapi aku hanya berpura-pura biasa saja
Mencubitmu atau mengganggumu itu menyenangkan
Meski ku tahu kau tak begitu suka

Aku sangat rindu padamu
Ingin sesekali meluangkan waktu
Hanya sekedar makan bersama
Berbagi cerita di hari itu

Ketika aku tertawa di hadapanmu
sebenarnya ada sakit yang mendera tubuhku
ingin kubagi denganmu
tapi aku tak mampu
tak selayaknya kau tahu
Biarkan ini menjadi bebanku

Apakah semua ini hanya bingkai semu?
Entahlah
tapi aku tulus mencintaimu..

Selasa, 30 Oktober 2012

MARI DENGARKAN CERITAKU SEJENAK




Bolehkah aku bercerita.....
Aku teringat sesuatu, saat aku berdiri di panggung itu..
Bagaimana tidak, panggung itu terlalu megah untuk ukuran anak yang berumur 8 tahun, kira-kira kelas 3 SD.
Entah darimana asalnya, dan bagaimana kronologisnya hingga aku bisa menyanyi disana.
Anak bau kencur, yang sama sekali ga tahu teknik vocal. Tiba-tiba menyanyi di sebuah acara yang menurutku luar biasa, dan lagu yang kubawakan bukan lagu anak-anak seperti pada umumnya.

 Seingatku Itu pertama kalinya aku menyanyi di depan orang banyak.Setelah peristiwa itu jadi sering disuruh nyanyi baik di sekolah, maupun di acara 17 an,maklum tradisi itu masih ada.  Selain itu sering juga diminta menyanyi di walimahan saudara. Keluarga mendukung saja ketika aku menyanyi. Bahkan saat aku yang dulu masih sekecil itu bersanding dengan penyanyi sungguhan yang memang dengan sengaja didatangkan dan dibayar di acara aqiqah salah seorang tetangga yang kayaknya juga masih saudara meskipun agak jauh.

Ketika aku datang mbak-mbake penyanyi yang cantik dengan dandanan yang agak menor (maaf) menyambutku dengan ramah dan gemes banget ma aku, ya maklum saat itu masih lucu. Mungkin rada nggumun ko aku berani nyanyi,  aku ditanya “mau nyanyi apa dek?”. Cukup kujawab dengan senyum yang malu-maluin lha belum kenal sih. Tapi gak berselang lama terjadi keributan, mbakku langsung mengamankanku dan gak  jadi nyanyi deh. ..mesakke tenan yo!!

Setelah kejadian itu aku masih tetap menyanyi, setiap sekolah ada  acara apa gitu selalu memintaku untuk menyanyi. Mungkin dari situ aku belajar, karena jujur saja aku tak pandai membaca notasi,dan sama sekali  tak mengerti teknik vocal. Pernah juga mengikuti perlombaan macapat, mengikuti serangkaian seleksi hingga akhirnya terpilih. Lomba macapatku yang pertama langsung ke kabupaten rasane begitu deg-degan. Ketika PORSENI tiba aku juga mengikuti serangkaian seleksi, bahkan ikut  seleksi diberbagai perlombaan.  Mulai dari tari, geguritan dan macapat itu sendiri. Saat itu aku mencoba mengasah kemampuanku di bidang lain, aku ingin bisa semuanya. Meskipun ada teman yang berkomentar bahwa aku harusnya milih salah satu, karena nanti tidak akan fokus atau apalah namanya itu. Saat harus seleksi tari di kecamatan aku ga lolos, ya maklum wae bisa nari aja dikit-dikit. Tapi akhirnya tetep kembali ke duniaku, dunia tarik suara. Hingga akhirnya terpilih dan diminta mewakili sekolahku. Aku masuki ingat, sering datang ke rumah guruku tercinta Pak Pri namanya. Suaranya bagus, caranya membaca geguritan bagus, beliau juga bisa menjadi pranata adicara. Sosok yang inspiratif menurutku.  Beliau itu multitalent . Banyak hal yang kupelajari dari beliau, aku  jadi tau bagaimana nembang macapat yang ada luk’e,cara membaca geguritannya bukan seperti orang-orang kuno yang nadanya sama dari awal sampai akhir.Pokokoe TOP banget, belum lagi Bu Pri ( istrinya P.Pri) yang selalu menyediakan jamu kunir asem, katanya biar suarane bagus. Tiap hari dibimbing latihan  dan akhirnya maju lomba di kecamatan dan selanjutnya di kabupaten.
Alhamdulillah bisa juara tiga, aku ingat betul saat lomba harus mengenakan nyamping dan kebaya, jam setengah enam pagi harus sudah ngantri di salon untuk make up. Begitulah kisah di masa-masa SD.

Memasuki SMP, awalnya belum banyak yang tau kalo aku bisa nyanyi. Agak lupa konangane karena apa, kayake karena ikut lomba solo vocal  saat classmeeting. Gila aja, g pernah nyangka kalo dapet juara 1. Ya sejak itu jadi sering nyanyi di acara-acara sekolah baik acarane siswa,guru maupun saat mengundang wali murid, dan  biasane diiringi keyboard oleh adik kelasku yang setia mengiringiku sejak SD sekarang dia dimana ya?! Selain itu ikut ansamble musik, paduan suara dan karawitan.  Di paduan suara dan ansamble aku bertemu lagi dengan guru sekaligus wali kelasku. Bu Tri widayati, lebih dari seorang guru, beliau adalah sumber ilmu, dan sosok seorang ibu. Kangeeeeen pengen ketemu. Karena sekarang beliau sudah pindah dari SMP 1 Simo. Dari beliau aku belajar teknik vocal,macam2 pokoke. Beliau kan guru seni musik. Jadi sedikit banyak taulah, di paduan suara aku gak ikut nyengnyong  tapi malah jadi conductor (bukan benda yang menghantarkan kalor lho) tapi biasa disebut dirigent (awas kalo sampai salah baca jadi drigen!!). Pengalaman yang paling mendebarkan adalah saat harus menjadi dirigent di upacara aubade se kecamatan. Gimana gak grogi harus laporan ma inspektur upacara dulu, sebelum paduan suara kami nyanyi. Yang bikin semakin grogi itu bukan laporannya, tapi masalah baris-berbarisnya yang gak bagus. Maaf aja ya, aku kan g begitu aktif di pramuka,salah-salah dikit bisa diampuni. Di karawitan juga gak lepas dari yang namanya nyanyi awalnya sih memainkan gamelan meskipun Cuma balungan, tapi ujung-ujungnya nyanyi lagi. Gimana enggak, aku disana disuruh jadi gerong. Aku masih menyimpan foto saat main di acara perpisahan dulu. Aku pake kebaya, bunga kamboja terselip manis di  rambutku dan teman2. Betapa aku tidak pernah terlepas dari nyanyi dan bagiku menyanyi adalah bagian dari hidupku.

Saat SMA akupun masih tetap bergelut di dunia tarik suara dan  juga profesi dirigentku yang tidak pernah ketinggalan , kayaknya sudah begitu melekat seperti sudah benar-benar terpatri Naris =dirigent mosok dari SD-SMA. Jadi ingat pengalaman jadi dirigent yang paling memalukan adalah saat harus memberi aba-aba dan harus naik ke atas meja gara-gara aku terlalu pendek jadi aba-abanya gak kelihatan dari belakang. Bayangpun.....,malu banget apalagi paduan suaranya kakak kelas.
Aku masih tetap nyanyi sewaktu SMA, menjadi perwakilan sekolah untuk mengikuti lomba solo vocal.  Aku memilih lagu dari penyanyi kesayangan, dan diiringi Pak Pras (Guru SMPku red).  Sama seperti SD dan SMP yang sering nyanyi diacara sekolah maupun acara guru. Ada yang baru saat aku SMA, aku ikut band..Ada Pak Joko yang selalu menggebu-gebu menyuruhku untuk terus bernyanyi.

Terlepas dari itu semua...aku juga mulai menata hidup dan langkahku dengan memakai jilbab. Saat mulai naik kelas 2 SMA. Meski sudah memakai jilbab, rutinitas menyanyi tidak pernah lepas. Sampai aku mengetahui  tentang suara wanita menurut pandangan islam dari seseorang. Meski aku tau gak merubah semuanya, aku tetap menyanyi. Tetapi sempat beberapa kali aku mengikuti lomba baik lomba macapat, lomba vocal gak pernah menang dan hasilnya itu  selalu beda dengan latihanku.  Sejak  saat itu aku mulai berfikir apakah ini teguran?! Atau memang ada yang salah denganku?Entahlah, aku tak tau. Aku tetap bernyanyi hingga suatu hari ketika aku harus kehilangan suaraku dan benar-benar parau padahal besok aku harus bernyanyi di acara perpisahan kakak kelas,  bahkan aku sudah latihan dan memilih  lagu yang bagus , iringan organnya pun sangat indah ( Jay..jangan GR ya). Tapi itu semua pupus sudah, tak ada harapan untuk bisa menyanyi hari itu.  Kejadian seperti ini tidak hanya sekali, setiap aku mau nyanyi selalu tidak jadi entah ada-ada saja kendalanya. Kalaupun jadi nyanyi hasilnya tidak bagus dan pasti ada yang salah.  Yah mungkin aku harus belajar lebih giat lag Dan aku mulai menerimanya,mencoba menggali setiap hikmah yang terkandung di setiap peristiwa yang terjadi. Meskipun banyak perbedaan pendapat ulama tentang suara wanita.

Memasuki  bangku kuliah, mulai belajar tentang islam lebih jauh lagi. Memantapkan diri menjadi seorang muslimah sejati yang harus bisa memilih mana yang syar’i dan mana yang tidak. Hingga sampai pada masa dimana aku dipertemukan dengan Al-Huda, Sebuah petunjuk yanng menggiringku ke jalan dimana aku harus berdiri memantapkan langkah dan keyakinanku yang sempat goyah.  Suatu hari  Aku mengikuti audisi nasyid akhwat, seneng rasanya bisa menyanyi tetapi tetep syar’i. Nasyid akhwat......”DAWAI” (Dakwah Wanita Islami). Sekarang setiap kata yang kuucapkan di lirik senandungku adalah dakwah. Setiap nada yang kulantunkan adalah ibadah. Harmoni nada-nada yang selalu menggema di sepanjang waktu adalah bukti komitmen kami terhadap islam. Inilah jalan kami..jalan dakwah kami. Jalan dakwah lewat seni...Inilah bukti komitmenku kepada-MU Rabbi,,

Seandainya saat SMA dulu, sudah ada yang mewadahi akhwat untuk senantiasa berkreasi..
Bagaimana mau mewadai, setiap aku selesai menyanyi akan ada sikap yang kurang enak dan membuatku merasa telah melakukan dosa besar, apalagi posisiku sebagai wanita yang berjilbab.
Aku merasakan sikap itu dari orang2 yang bergelut di------ sekolah, entah karena aku yang tak terlalu kenal atau bagaimana. Semoga hanya perasaanku yang salah. Semoga saat ini telah ada tempat yang khusus mewadahi wanita muslimah yang ingin terus menggali potensi dan kreasinya. Jangan sampai ada akhwat yang seperti aku.
Meskipun aku terkadang masih “nyinden”di kelas, itupun karena disuruh dosen, harap dimaklumi. Mengingat jurusanku yang mengharuskan  memiliki skill untuk sindhen menyindhen.

------------------------------------------0----------------------------0--------------------------------
Bagaimana bisa aku dipisahkan dengan menyanyi, jangan pisahkan aku. Menyanyi adalah bagian dari hidupku. Kalau kata BSBK ( Bidangku tercinta). Separuh jiwaku seni....
Sempat ada kekhawatiran kalau-kalau aku disuruh berhenti bersenandung..

Tahun 2012 ini mendapat amanah baru yang sebenarnya sudah membuatku penasaran sejak tahun lalu yaitu di Asosiasi Nasyid Nusantara wilayah  Jogjakarta. Ya..tidak jauh-jauh dari nasyid, sebuah komunitas yang menggarap bidang seni islam yaitu nasyid. Alhamdulillah tahun ini nasyid sudah dilirik oleh dinas-dinas di DIY. Baik dinas Pariwisata maupun dinas Kebudayaan. Itu semua memang berkat kerja keras teman-teman ikhwah yang ada di sana. Kemarin telah menyelenggarakan festival nasyid Jogjakarta dan tanggal 15 nanti insyaALLAH akan mengadakan konser nasyid. Semoga lancar dan berkah yaah..

Berada di ANN  sebenarnya ada beban tersendiri, aku merasakan beban ketika Dawai disebut di forum ANN, entah kenapa. Oya.. tahun ini Dawai juga sudah rekaman dengan single Sentuhan hati, yaaah meskipun bukan lagu sendiri tapi ya lumayan baguus kok lagunya, sempat menyentuh hati beberapa orang pendengar..
Naah..Dawai kan telah memutuskan untuk go publik, jadi siap nampil di umum jika sewaktu-waktu ada tawaran. Beberapa waktu lalu sempat nampil di Islamic Book Fair dan Muslim Fair. Sungguh keinginan yang dulu kita idam-idamkan. Alhamdulillah... J

Kembali ke beban tadi niih, sebagai pengurus ANN  meskipun aku Cuma bantu2 aja. (Kalo ditanya sie apa, Sie Kepastian..he2) agak gimana gitu, ANN memang masih berhati-hati dalam menampilan nasyid akhwat aku hargai itu. Tapi di sisi lain aku adalah pengurus dan masih bernyanyi di umum. Sebuah dilema melanda diriku memang...(halahh bahasane).Aku tahu masalah menyanyi di umum itu masih menjadi perdebatan apalagi bagi seorang akhwat, tapi niatan kita adalah ingin syiar lebih luas. Allah yang Maha tahu hati-hati kami semoga tetap lurus dan ikhlas. Sungguh tidak ada niatan sama sekali untuk membuat orang-orang merinding ataupun terpesona dengan suara kami. Aku pribadi selalu berdoa semoga lagu yang kunyanyikan tidak menimbulkan syahwat. Kalau disuruh memilih memang lebih enak bernyanyi di umum jadi tidak ada ikhwah di sana. Karna membuat grogi juga kalau ada mereka tuuh, apalagi orang yang kedekatannya dengan Allah begitu baik mendengar suara kami dikhawatirkan menimbulkan efek yang kurang baik. Tapi kembali lagi, pada kesucian hati pendengarnya. Penyanyi itu tugasnya bernyanyi bukan memastikan hati para pendengar.

Dimanapun aku berdiri, dimanapun amanahku aku tak bisa memisahkan diri dari menyanyi.
Meski suaraku tak terlalu bagus, meski aku belum banyak tahu teknik vocal.
Aku akan tetap menyanyi...
Aku akan belajar menjadi seorang penyanyi yang baik
Sampai kapanpun, kumohon siapapun kalian jangan suruh aku berhenti untuk benyanyi.
“Dakwahku lewat lantunan syair , Syair Kalam ilahi yang terangkai dalam sebuah harmoni”

NB : Terimakasih untuk semua guruku yang telah mengajariku bernyanyi
Waallhu a’lam bishowab